Rintihan Petani "Tiromanda" Luwu Kepada Presiden RI "Prabowo Subianto" Jatah Subsidi Pupuk Hambat Kesejahteraan ?


Luwu _ SULSEL.MEDAKnusantara.com.-! Sebuah realita kehidupan rakyat petani warga Desa Tiromanda Kec. Bua Kab. Luwu Sulsel, wartawan media Merak Nusantara Com dalam penelusuran  mendapat pengakuan warga petani, Senin 6 April 2026 sangat miris mendengarnya dan berbanding terbalik dengan sejumlah slogan pemerintah tentang kesejahteraan hidup petani.

Program bantuan subsidi pemerintah tentang pupuk hanyalah isapan jempol semata dan jauh dari upaya mensejahterakan masyarakat petani kita.


Hasbi (60) mengakui bahwa dirinya yang memiliki lahan persawahan seluas 2 ha, hanya mendapatkan jatah pupuk subsidi sebanyak 12 zak pertahunnya. Pada hal kebutuhan pupuk yang dibutuhkan dalam satu musim tanam saja, itu harus minimal 6 zak pupuk urea dan 6 zak pupuk NPK. 

Hasbi bahkan menegaskan bahwa jika pemerintah benar-benar ingin melihat rakyat petani sawah khusunya untuk hidup Sejahtera, pemerintah seharusnya memberikan pemenuhan kebutuhan pupuk secara optimal sebanyak 18 zak permusim tanam. 

Selama ini saya hanya mendapat jatah pupuk subsidi sebagai salah seorang anggota kelompok tani, hanya 12 zak pertahun. Pada hal kebutuhan saya seharusnya 24 zak permusim tanam untuk 2 ha lawan sawah.

Bahkan untuk mendapatkan hasil secara optimal, sejatinya pemerintah memberikan jatah pupuk subsidi sebanyak 36 zak permusim tanam. 

Demikian pula diungkapkan oleh Mustamin Randang sebagai salah seorang petani sawah di Desa Tiromanda Kec. Bua Kab. Luwu dengan keluhan yang sama. Mustamin juga menyebutkan, bahwa di lahan sawah miliknya, justru tidak membutuhkan urea melainkan pupuk ZA yang tidak tergolong sebagai pupuk subsidi yang harganya mencapai Rp 340 ribu per zak. 

Atasnya menurut ke dua orang petani ini menegaskan agar Presiden RI Prabowo Subianto dapat mendengarkan keluhan kami melalui informasi ini. 

Program pemerintah akan bantuan pupuk subsidi, bukannya mensejahterakan rakyat melainkan menghambatnya atas adanya batasan jatah yang justru jauh dari kebutuhan pupuk yang diharapkan. 

Bagaimana kami selaku petani bisa sejahtera jika kebutuhan kami harus dibatasi. Ibaratnya, tanaman kami hanya diberi kebutuhan makanan setengahnya bahkan sepertiga dari yang sebenarnya. 

Kebijakan membatasi pembelian pupuk subsidi sama saja membatasi atau menghalangi kami untuk hidup sejahtera apalagi hidup makmur, ungkapnya miris.

Ironisnya, Hasbi Cs yang ditanya mengenai nama PPL pertanian di Desanya, spontan dijawab jangankan dikenal namanya pak, orangnya saja tidak pernah kelihatan batang hidungnya untuk  bertemu dan katanya, menurut kabar yang dia dengar bahwa PPL pertanian di Desa Tiromanda sudah diganti dengan Perempuan, ungkapnya terkesan bingun. 

(Laporan Wartawan Biro Sulsel M Nasrum Naba)

Baca Juga

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama