Merak Nusantara.com Cirebon - Keluarga Besar Almarhum Abah Sa'ad dan Mimih Rikhanah (Orangtua) dari Hasan Hariri alias Kang Hariri'BM'79, Kepala Perwakilan Wilayah Provinsi (Kaperwilprov) Banten, menggelar acara Khitanan kedua Cucu nya ( Dede Pandu, Rafa anak dari keponakan Diah Nurjanah Septiani dan Panji, Fina Romhadoni dan Gilang Fiqi Fauzan) yang tinggal di Cirebon dengan dihibur Kesenian seni Budaya Kabupaten Cirebon pada Minggu pagi hingga selesai, ditempat kediaman Jl.Makam Mbah Muqoyim Gg.Cendana No.99 RT 003 RW 02 Desa Tuk Karangsuwung, Kecamatan Lemahabang-Sindanglaut, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat. (22/03/2026)
Kesenian Burok adalah seni pertunjukan tradisional khas Kabupaten Cirebon yang lahir sekitar tahun 1920-an atau 1934 di Desa Kalimaro, Kecamatan Babakan, yang dipelopori oleh Bapak Ta'al. Kesenian ini terinspirasi dari kisah Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW, menampilkan boneka berbentuk kuda bersayap dengan wajah manusia yang diarak dalam acara khitanan atau syukuran.
*Awal Mula dan Asal-usul*
Seni Burok pertama kali dikenalkan di Desa Kalimaro, Kecamatan Gebang (beberapa sumber menyebut Kecamatan Babakan), Kabupaten Cirebon. Burok dibuat dalam bentuk bedawang (kurungan yang dihias) yang menyerupai hewan Buraq, kendaraan Nabi Muhammad SAW saat Isra Mi'raj.
*Makna dan Tujuan*
Kesenian ini merupakan perpaduan antara dakwah Islam dan tradisi lokal. Burok sering ditampilkan untuk memeriahkan khitanan, pernikahan, atau pesta budaya dengan harapan agar anak yang dikhitan derajatnya tinggi seperti Nabi.
*Perkembangan Musik*
Awalnya, kesenian Burok diiringi oleh musik tradisional seperti Genjring dan Beduk. Seiring perkembangan zaman, iringan musiknya bertransformasi menggunakan organ tunggal dan dangdut, yang membuatnya populer di wilayah Pantura.
*Perkembangan dan Eksistensi*
Pada era 2000-an, kesenian Burok sering dikaitkan dengan partai politik (sering dijumpai warna kuning), namun tetap eksis sebagai hiburan masyarakat. Kini, seni Burok terus diupayakan untuk dilestarikan sebagai warisan budaya khas Kabupaten Cirebon.
Dihadiri, Munadi (kakak) dari Jakarta, Adik Junaedi dan istri dari Tangerang, Kang Hariri'BM'79 beserta istri, juga empat putra-putri nya dari Banten, Keluarga Uwa Saleh, Keluarga Bi Suti perumnas Kota Cirebon dan Akang Sepuh di dampingi keluarga Alm.Kakak Djuandi, pimpinan ponpes Mansyaul Ulum Pejaten Cirebon dan tamu undangan lainnya.
Kang Hariri'BM'79"saat di temui awak Media menyampaikan,"Alhamdulillah, kami sangat bersyukur bisa merayakan H+1 Hari Raya Idul Fitri 1447 H dengan acara khitanan cucu kami yang kedua ini. Kesenian Burok ini memang sangat khas dan memiliki makna yang mendalam bagi kami. Semoga acara ini bisa membawa kebahagiaan dan keberkahan bagi keluarga kami,"ujarnya.
Masih ditempat yang sama Kakak Munadi mengatakan,"Saya sangat senang bisa hadir di acara khitanan keponakan saya ini. Kesenian Burok memang sangat meriah dan membuat suasana semakin hangat. Semoga cucu kami menjadi anak yang sholeh dan berbakti kepada orang tua,"ucapnya.
Adik Junaedi menambahkan,"Alhamdulillah, warga sekitar sangat antusias berdatangan, dan Saya sangat bahagia bisa hadir di acara khitanan keponakan saya ini bersama keluarga. Kesenian Burok ini memang sangat unik dan membuat saya merasa seperti kembali ke masa kecil. Semoga cucu kami menjadi anak yang sukses dan berbakti kepada orang tua,"imbuhnya.
Acara dilanjutkan dengan pembukaan tausyiah dan do'a oleh Akang Sepuh, diikuti dengan prosesi khitanan kedua pengantin sunat.
"Bismillahirrahmanirrahim, kami memohon kepada Allah SWT agar kedua pengantin sunat ini diberikan kekuatan dan kesabaran dalam menjalani proses khitanan ini. Semoga mereka menjadi anak yang sholeh dan berbakti kepada orang tua," tutup Akang Sepuh.
(Red)

Posting Komentar