Viral Pasien Operasi Caesar Meninggal Dunia Diduga Terjadi "Malapraktek" Penanganan Operasi Gabungan Dipertanyakan?


Luwu_SULSEL.MERAKnusantara.com- Haerunnisa, SH (30), diduga jadi korban malpraktek atas tindakan medis melakukan operasi caesar pada RSU Batara Guru Kabupaten Luwu. Berdasarkan hasil diagnosa kehamilan Haerunnisa, berdasarkan hasil USG  disepakati agar pada Ahad 7 Juni 2026 masuk di opname selama 24 jam untuk pelaksanaan oprasi sesar pada Tanggal 8 / 6/ 2026.

Hasil pemeriksaan sebelumnya melalui hasil kontrol USG di RSU Batara Guru Belopa, hasilnya baik dan tidak ada penyakit lainnya. Kecuali usia kehamilan sudah memasuki masa kelahiran anaknya yang dikandungnya sama-sama sehat wal Afiat. 

Kemudian berdasarkan hasil diagnosa kehamilannya, oleh pihak medis menyarankan kepada Haerunnisa untuk di opname pada Ahad, 7 Juni 2026 untuk dilakukan operasi pada   Senin 8 Juni 2026 jam 08.00 pagi yang pelaksanaannya jam 09.00 pagi wita.

Operasi caesar untuk kelahiran anak yang diberi nama "Muhammad Khairil" berhasil dilakukan dengan baik.

Namun kemudian, pasien Haerunnisa yang dioperasi caesar baru sadarkan diri dan  keluar dari kamar operasi sekitar pukul 11.30 wita. 

Dalam keadaan masih lemas, Haerunnisa sempat  mengucapkan permintaannya kepada dokter, " tolong saya pak dokter gelap penglihatanku" jelas sumber menirukan.

Pihak perawat hanya menjawab dengan  mengatakan kepada pasien, dipejamkan saja matanya. Tak lama kemudian, pasien tiba-tiba sesak nafas dan sekarat hingga pihak perawat melakukan tindakan medis dan membawanya ke ruang ICU dan akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya sekitar pukul 15.30 wita, pada Senin 8 Juni 2026.

Sejumlah keluarga almh. Hairunnisa menjadi heran saat mengetahui bahwa tindakan medis pihak RSU Batara Guru Kabupaten Luwu Sulsel, ternyata bukan hanya melakukan operasi caesar tetapi sekaligus dengan operasi Kista.

Hal itu menjadi pemantik sejumlah keraguan pihak keluarga pasien atas tindakan medis yang diduga terjadinya malapraktek. Pasalnya, pelaksanaan operasi hanya diketahui dan disepakati untuk caesar saja. Lalu kenapa tiba-tiba oleh pihak medis melalui salah seorang tim operasi mengatakan kepada Firman ( suami Almarhumah ) bahwa istrinya juga dilakukan tindakan medis atas penyakit kistanya sembari memperlihatkan sesuatu dalam kantongan plastik yang bercampur darah.

Saat itu, Haerunnisa masih dalam ruangan kamar operasi pasca bayi laki-laki berhasil diangkat dari rahim ibunya dalam keadaan sehat dan diperlihatkan kepada Firman selaku ayahnya. Dan salah seorang pihak tim operasi mengatakan bahwa pelaksanaan operasi atas diri Haerunnisa juga dilakukan operasi kista.

Firman yang dikonfirmasi di rumah kediaman orang tua almarhumah di Batulappa, Larompong Selatan Kab. Luwu Sulsel pada Kamis, 11 Juni 2026, kepada Wartawan Merak Nusantara mengakui bahwa dirinya tidak pernah mendengar dari istrinya punya keluhan penyakit kista.

Saya selalu mendampingi istriku melakukan chek up kesehatan kandungannya, pemeriksaan USG, dan setiap hasil pemeriksaannya selalu dikatakan bahwa Alhamdulillah Sehat Wal Afiat dan tidak pernah memberitahukan saya kalau istri saya mengeluhkan adanya penyakit kista. 

Sampai pemeriksaan terakhir saat diputuskan untuk dilakukan operasi caesar, juga tidak ada pemberitahuan dari pihak medis RSU Batara Guru bahwa istri saya punya penyakit kista.

Bahkan hingga saya menandatangani persetujuan pelaksanaan operasi sesar, tidak ada pemberitahuan medis dari pihak RSU Batara Guru yang menyebutkan bahwa istri saya harus mendapatkan penanganan operasi gabungan penyakit sekaligus, fungkas sambil menangis.

Sementara sang Paman Arman, S.Pd.i sangat menyangkan atas tindakan medis pihak RSU Batara Guru Belopa  yang terkesan gegabah dan menduga pelaksaksanaan oprasi caesar yang disertai operasi kista secara bersamaan tanpa kesepakatan pihak keluarga pasien.

Saya sadar bahwa setiap manusia pasti akan mati namun kami perlu mengetahui sebab musabab yang sebenarnya dalam pelaksanaan operasi ini. Sebab bagaimanapun juga anak kami ini diketahui bahwa hanya dilakukan operasi caesar semata tidak dengan operasi Kista secara bersamaan. 

Lanjut sang Paman menegaskan bahwa kami menduga kematian anak keponakan saya pasca dilakukannya operasi caesar dan kista, itu adalah tanda tanya besar bagi kami. Kenapa dilakukan oprasi gabungan tanpa pemberitahuan dan persetujuan dari kami ?

Hal Aneh lagi, dan juga menambah kecurigaan bagi kami karena almarhumah dikembalikan jasadnya tidak seperti dengan yang lazimnya. Yakni, kenapa jasad mayat anak kami langsung dikeluarkan secara terburu-buru dari RSU Batara Guru tanpa harus diketahui pihak ahli waris yang paling berhak oleh suaminya untuk menandatangani kelengkapan administrasi penyerahan mayat.

Ada apa dan kenapa sehingga anak perempuan yang masih dibawah umur disuruh bertandatangan untuk mengeluarkan jasad almarhumah Haerunnisa untuk segera dibawah kembali kerumahnya ?  Mengapa bukan kepada Firman suami almarhumah  saat itu sedang berada di RSU Batara Guru saat itu dibagian pelayanan ?

Hal yang mengherankan juga, karena mayat terkesan harus segera meninggalkan RSUD Batara Guru dengan menyediakan mobil ambulance tanpa diminta dan diketahui suaminya. Mayat diantar menuju Rumah Kediaman Ibu kandung Almarhum Haerunnisa di Batulappa Larompong Selatan, Hanya ditemani ibu kandung dan adek iparnya yang masih dibawah umur itu, tanpa didampingi oleh suaminya yang masih sedang melakukan pengurusan di unit pelayanan RSUD Batara Guru Belopa Kabupaten Luwu, tak seperti biasanya dan  mayat segera harus meninggalkan rumah sakit laiknya ada sesuatu yang  kami patut pertanyakan dan mengetahuinya, ada apa ? Ungkapnya.


(Laporan Wartawan Biro Sulsel _ M Nasrum Naba)

Baca Juga

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama

Iklan

Iklan Hari Pendidikan Nasional