LAMAITO, ANGKONA, LUWU TIMUR - SULSEL.MERAKnusantara.com- Tidak di gedung mewah ber-AC, tidak di cafe elit. Anggota DPRD Luwu Timur dari Partai NasDem Dapil 2, Andi Muhammad Iwan yang akrab disapa *Pakde*, ditemui wartawan nasional Merak Nusantara Com justru di sebuah warkop sederhana milik pedagang kaki lima di Desa Lamaito, Kecamatan Angkona.
Pertemuan yang terkesan kebetulan itu sejatinya adalah pertemuan kedua. Sebelumnya, Pakde dan wartawan media ini bertemu dua pekan lalu dalam *Rapat Dengar Pendapat (RDP) terkait Pemecatan Sepihak Relawan SPPG Puncak Indah Malili*, di mana Pakde tampil keras, vokal, dan pantang mundur membela kepentingan rakyat kecil. Sikap itulah yang menjadi ciri khasnya di DPRD Luwu Timur.
Di balik sikap kerasnya dalam merespon aspirasi publik, tersimpan historis hidup yang sangat krusial dan inspiratif.
*Dari Kuli Bongkar Truk Rp.5.000 di Makassar Hingga Pewaris Darah Biru*
Dalam perbincangan santai sambil menyeruput kopi hitam di warkop tersebut, Pakde bercerita jujur tentang masa lalunya. Demi membiayai kuliah di Makassar, ia pernah menjadi buruh kuli bongkar muatan mobil truk 6 roda dengan upah yang sangat kecil, *hanya Rp. 5.000 hingga Rp.10.000 per mobil.*
"Saya pernah merasakan bagaimana susahnya hidup, bagaimana rasanya mencari uang dengan keringat sendiri. Karena itu saya paham betul bagaimana rasanya menjadi rakyat kecil yang butuh keadilan," ujar Pakde dengan nada rendah.
Menariknya, meski memiliki pengalaman akademik di Makassar, sosok yang dikenal sebagai *Sang Pewaris Adat Darah Biru* ini enggan menyebut predikat gelar akademiknya.
> "Apalah gunanya kami mengakui berpredikat pendidikan tinggi, tapi realitas aktualisasi kepada masyarakat justru tidak dapat dipertanggungjawabkan. Mending kami mengakui berpendidikan lebih rendah tapi pelaksanaan di lapangan justru masyarakat memberikan apresiasi sebagai pengembang amanah yang sesungguhnya laiknya sebagai orang yang berintelektual tinggi," katanya merendah.
Dan fakta itu memang benar. *Andi Muhammad Iwan menjadi Anggota DPRD Luwu Timur hanya menggunakan ijazah SMA*, bukan ijazah Sarjana. Sebuah kejujuran yang langka di tengah banyaknya politisi yang berlomba-lomba memamerkan gelar.
*16 Tahun Mengabdi Sebagai Kepala Desa, 3 Periode Dipercaya Rakyat*
Sebelum menjadi legislator, Pakde adalah sosok Kepala Desa Lamaito selama *3 periode atau lebih dari 16 tahun.* Selama itu, ia dikenal sebagai pemegang amanah rakyat yang diidolakan warganya. Bukan karena harta, tapi karena kehadiran dan keberpihakannya.
Kepemimpinannya yang merakyat inilah yang mengantarkannya ke kursi DPRD Luwu Timur dari Partai NasDem.
*Politik Itu Indah, Jika Untuk Kebaikan Bersama*
Ketika ditanya mengapa terjun ke dunia politik, jawabannya sangat filosofis dan edukatif.
"Menurut saya, politik itu indah. Politik bisa memahami banyak hal untuk dapat berbuat kepada banyak orang atau masyarakat luas," ungkapnya.
Namun ia juga mengkritik keras oknum politikus pragmatis.
"Kecuali bila oknum pemangku amanah politik yang cenderung melakukan hal-hal pragmatis untuk mencapai tujuan tertentu, maka itulah yang disebut sebagai politikus dimana prakteknya selalu bertentangan dengan hakikat arti, maksud dan tujuan politik itu sendiri," tegasnya.
*Mengaku Termiskin, Tapi Kaya Hati*
Di akhir perbincangan, dengan kerendahan hati yang luar biasa, Pakde mengaku bahwa sampai saat ini dirinya masih tergolong bagian yang termiskin di tataran anggota DPRD.
"Apa yang harus kami sombongkan dalam kesederhanaan hidup ini. Tapi justru kami bangga karena dari kesederhanaan dan keterbatasan harta materi bukan berarti kami tak dapat berbagi kepada sesama yang membutuhkan," ujarnya.
Ia pun menitip pesan moral untuk kerabat, sahabat, dan mitra kerja: *"Berakit-rakit dahulu, bersenang-senang kemudian."*
Sebuah pepatah klasik yang menjadi prinsip hidupnya, bahwa pengabdian, kerja keras, dan kesederhanaan adalah jalan menuju keberkahan politik yang bermartabat.
*Figur Legislator yang Langka:* Keras dalam kebenaran, lembut dalam kesederhanaan. Itulah Andi Muhammad Iwan, Pakde dari Lamaito, Dapil 2 NasDem Luwu Timur.
(Laporan Ka.Biro Sulsel_M Nasrum Naba)


