Belopa_SULSEL.MERAKnusantara.com, - Kasus viral pasien meninggal dunia dugaan malapraktek pelaksanaan operasi Caesar dan Kista pada Senin 8 Juni 2026, Direktur RSUD Batara Guru dr. Daud Mustakim, M.Kes menolak dikonfirmasi oleh Tim Investigasi LSM dan Pers ( ASPIRASI dan Merak Nusantara Com) pada Rabu, 17 Juni 2026.
Diakui salah seorang staf dibidang kepegawaian yang tidak siap disebutkan identitasnya, membernarkan kejadian adanya pasien meninggal dunia pasca dioperasi Caesar dan Pengangkatan Kista. Mendengar kronologis penjelasan dari pihak keluarga korban kepada staf yang mengaku tidak bisa memberikan komentar karena bukan bidangnya, ia pun mengarahkan kepada salah seorang dokter yang membidangi dan menangani permasalahan ini.
Yakni melalui Dr. Sahrul yang ditemui langsung di ruang kerjanya. Kami dari tim investigasi sekaligus sebagai pendamping hukum nonlitigasi bagi keluarga korban, dalam hal ini bersama ARMAN, S.,PD.i selaku kakak kandung daripada pasien meninggal dunia operasi Caesar dan Kista, menyampaikan beberapa pertanyaan kepada dr.sahrul.
Dalam perbincangan terkait persoalan operasi yang pasiennya meninggal dunia dan viral se-jagad raya media sosial, ARMAN mempertanyakan sikap dan tanggung jawab pihak RSUD Batara Guru yang dinilai lalai dalam menjalankan tugasnya.
Ini persoalan nyawa pak yang hilang. Lalu kenapa sampai hari ini pihak RSUD Batara Guru terkesan apatis dan merasa tak bersalah atas kelalaian pelaksanaan operasi yang syarat Malpraktek dan Melanggar SOP ? Karena itu, kami hadir disini untuk bertemu dengan Direktur RSUD Dr Daud Mustakim, M.Kes untuk memperjelas apa tindakan yang dilakukan terhadap para tim medis yang menangani operasi Almarhumah Haerunnisa pada Senin 8 Juni 2026 itu ?
Mendengar pernyataan Arman selaku Kakak kandung Almarhumah Haerunnisa, dr. Sahrul menanggapinya dengan mengakui bahwa sementara ini pihaknya sedang melakukan pengumpulan fakta-fakta data dan melakukan konfirmasi kepada semua pihak tim medis yang terkait.
Dan mengenai informasi bahwa pasien kehabisan darah itu tidak benar karena menurut hasil pemeriksaannya, persiapan stok darah pada saat itu masih tersedia 4 kantong darah.
Mengenai soal baru ditemukannya penyakit kista pasca operasi Caesar dan anaknya bayinya diangkat dari rahim ibunya, barulah pihak medis melihat bahwa pasien juga punya kista. Dan pihak Tim Dokter operasi langsung melakukan operasi tanpa pemberitahuan dan persetujuan pihak keluarga korban.
Saya minta maaf atas hal itu karena operasi pengangkatan kista dilakukan oleh anggota kami tanpa persetujuan pihak keluarga secara tertulis walaupun oleh pasien yang masih dalam keadaan sadar, ungkap Sahrul menyangkan tindakan operasi tanpa persetujuan tertulis pihak keluarga pasien
Sehubungan dengan pelaksanaan operasi kista yang sebelumnya tidak terdeteksi oleh sejumlah hasil diagnosa , dan hasil USG juga menyatakan tidak menemukan adanya penyakit Kista pada diri pasien, membuatnya jadi kebingungan menjawab pertanyaan Tim Investigasi LSM Aspirasi oleh AHMAR, bahwa kenapa bisa alat secanggih USG yang dimiliki oleh RSUD Batara Guru tidak dapat mendeteksi penyakit kista pada diri pasien ?
Apakah alat USG yang sudah rusak atau memang ada unsur malapraktek yang sengaja dilakukan oleh para medis RSUD Batara Guru selama ini ?
Dalam percakapan klarifikasi di ruang kerja dr. Sahrul, pihak keluarga bersama pendamping hukum non litigasi meminta agar persoalan ini dapat dibicarakan langsung kepada Direktur RSUD Batara Guru untuk mencari tahu langkah-langkah yang akan ditempuh terkait permasalahan dugaan malpraktek yang menyebabkan hilangnya nyawa pasien dan mengakibatkan anak yang dilahirkannya menjadi anak yatim akibat kelalaian pelaksanaan operasi Caesar dan Kista tersebut.
Karena menurut dr. Sahrul Direktur RSUD Batara Guru tidak di kantor dan siap memfasilitasi pertemuan dimaksud, akhirnya pihak keluarga siap menunggu untuk dapat bertemu langsung dengan Direktur RSUD Batara Guru.
Tapi apa mau dikata, sepertinya Direktur RSUD Batara Guru terkesan apatisme dan tak punya rasa kepedulian sosial untuk memberikan permohonan maaf dan belasungkawa atas diri korban operasi almarhumah Haerunnisa. Direktur RSUD Batara Guru dr. David Mustakim, M.Kes terkesan menghindar dan lari dari tanggungjawab kelalaian anggotanya yang diduga melakukan malapraktek dan melanggar SOP itu.
Ironisnya lagi, karena ada kesan bujuk rayu dari pihak RSUD Batara Guru melalui dr. Sahrul kepada kami dari Tim Pendamping hukum Non Litigasi dengan pihak keluarga untuk mentraktir makan dengan maksud untuk membujuk kami agar persoalan ini tidak dipermasalahkan lebih lanjut. Faktanya minta nomor rekening untuk maksud membayarkan nota makanan kami, dengan dalih minta dikirimkan nomor rekening bank via WhatsApp.
(Laporan Wartawan Biro Wartawan _ M Nasrum Naba )



Posting Komentar